Sabtu, 11 Desember 2010

Arthur Weasley


Arthur Weasley adalah karakter fiksi dalam novel Harry Potter karangan J.K. Rowling. Lahir pada tanggal 6 Februari 1940-an. Menikah dengan Molly Weasley dan memiliki tujuh anak : Bill, Charlie, Percy, Fred, George, Ron, dan Ginny. Arthur adalah anak dari Septimus dan Cedrella Weasley. Cedrella adalah keturunan keluarga Black ("Selalu Berdarah Murni"), tapi menikah dengan Septimus Weasley yang berasal dari keluarga miskin dan dikenal dengan "darah pengkhianat". Sirius yang mengatakan hal ini, bahwa Arthur sebenarnya adalah anak sepupu keduanya.

Arthur Weasley bekerja di Kementerian Sihir di Departemen Penyalahgunaan Barang-Barang Muggle (Buku 1-5), dan di Buku Keenam ia dipromosikan sebagai kepala Kantor Pendeteksian dan Penyitaan Mantra Pertahanan dan Benda Perlindungan Palsu. Arthur sangat terobsesi dengan kebiasaan dan penemuan Muggle, dan ambisi terbesarnya adalah mengetahu bagaimana caranya pesawat terbang bisa tetap di angkasa. Kesukaannya adalah mengumpulkan barang-barang muggle seperti baterai dan saklar.

Dalam Harry Potter and the Order of the Phoenix, Arthur adalah anggota Orde Phoenix dan diserang oleh ular yang dikontrol oleh Voldermort. Harry yang pikirannya terhubung dengan Voldermort, melihat kejadian ini sebagai sebuah mimpi dan langsung menceritakannya pada Dumbledore sehingga Arthur dapat diselamatkan dan dibawa ke St. Mungo, Rumah Sakit untuk Penyakit dan Luka-Luka Sihir.

Molly Weasley


Molly Weasley, (nama gadisnya Prewett) adalah karakter fiksi dalam novel Harry Potter karangan J.K. Rowling. Lahir pada tanggal 30 Oktober 1950, seorang ibu rumah tangga, istri dari Arthur Weasley dan ibu dari Bill, Charlie, Percy, Fred, George, Ron dan Ginny. Molly yang juga anggota Orde Phoenix, adalah kemenakan Ignatius Prewett (yang menikah dengan Lucretia Black).

Dalam film, Molly Weasley diperankan oleh Julie Walters.

Molly menganggap Harry dan Hermione sebagai bagian dari keluarga Weasley. Harry terutama, diperlakukan dengan over-protektif karena dirinya yatim piatu dan tinggal dengan keluarga yang tidak memperlakukannya dengan baik. Ketika Molly membaca tulisan Rita Skeeter tentang cinta segitiga Harry, Hermione dan Krum, ia memperlakukan Hermione dengan dingin dan tidak ramah (mengiriminya telur paskah yang lebih kecil dibanding Harry maupun Ron) sampai Harry menjelaskan bahwa cerita tersebut hanyalah bohong belaka. Setelah itu Molly kembali memperlakukan Hermione seperti semula. Dalam Harry Potter and the Order of the Phoenix, Molly membela Harry dan menyatakan bahwa ia sudah seperti anaknya sendiri.

Molly berusaha menjaga agar rumahnya teratur, sebuah tugas yang sulit dengan adanya Fred dan George. Molly sendiri sebenarnya tidak begitu taat pada peraturan, setidaknya ketika di Hogwarts, ia dan Arthur sering melanggar jam malam (lihat Buku Keempat). Molly juga mengajar ketujuh anak-anaknya di rumah sebelum mereka masuk Hogwarts, tampaknya ini adalah sebuah alternatif selain menyekolahkan anak-anak penyihir di sekolah Muggle.

Nama "Molly" kemungkinan berasal dari kata "mollycoddle" dalam bahasa Inggris yang berarti overprotektif terhadap seseorang. Arthur Weasley memanggilnya dengan nama "Mollywobbles" (bila mereka sedang berdua saja). Ketakutan terbesarnya adalah kematian anggota keluarga atau orang-orang yang dicintainya. Hal ini sangat wajar, karena saudaranya, Gideon dan Fabian Prewett, mati terbunuh. Itu sebabnya Molly benar-benar mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Setelah terjadi teror di Piala Dunia Quidditch, Molly benar-benar takut bahwa kata terakhir yang diucapkan pada Fred dan George adalah bahwa nilai OWL mereka tidak cukup tinggi. Dan dialah satu-satunya anggota keluarga Weasley yang menangisi kepergian Percy dari rumah.

Molly tidak setuju pada Sirius Black dan Mundungus Fletcher. Sirius karena Molly menganggap Sirius bertintak terburu-buru dan tidak bertanggung jawab, sedangkan Mundungus karena dia seharusnya yang menjaga Harry ketika Harry diserang Dementor (dan nyaris membuatnya dikeluarkan dari sekolah) dan karena Mundungus membawa kuali curian ke Markas Orde Phoenix. Sirius juga tidak setuju pada Molly, yang dianggapnya berlebihan dalam melindungi Harry dan memperlakukannya seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa. Namun baik Sirius dan Molly tampaknya berusaha meredam ketidaksetujuan mereka masing-masing, dan Molly tetap membantu Sirius untuk bersih-bersih dan memasak di Grimmauld Place.

Ketika Molly bertemu calon menantunya, Fleur Delacour, yang bertunangan dengan Bill, ia semerta-merta tidak menyukai Fleur, seperti halnya Ginny dan Hermione, biarpun Molly enggan mengakuinya. Ia tidak habis pikir bagaimana Bill dan Fleur bisa saling mencintai, sementara karakter mereka begitu berbeda. Molly menganggap pernikahan mereka terlalu terburu-buru, karena keadaan yang serba-tidak-pasti akibat teror Voldermort dan Pelahap Mautnya. Biarpun sebenarnya dia dan Arthur juga menikah di usia muda dan dalam waktu yang berbahaya pula. Ginny bahkan menyangka Molly mencoba menjodohkan Bill dengan Tonks dengan cara sering mengundang Tonks untuk makan malam, padahal sebenarnya Molly memberi nasihat pada Tonks mengenai masalah hubungan Tonks dengan Lupin. Molly akhirnya dapat menerima Fleur setelah Bill digigit oleh Fenrir Greyback dalam Pertempuran di Hogwarts. Molly mengira setelah Bill digigit (dan ada kemungkinan menjadi atau memiliki sifat manusia serigala) Fleur tidak akan mau menikahinya. Tapi Fleur mengejutkan Molly (dan semua orang) bahwa ia akan tetap mencintai Bill, dan demikian pula sebaliknya, dan bahwa luka-luka yang membekas pada Bill justru membuatnya bangga karena menandakan Bill adalah orang yang pemberani. Molly sangat menghargai pendapat Fleur ini dan akhirnya merestui hubungan mereka.

Molly adalah orang yang telah menbunuh Bellatrix Lestrange pada pertempuran HOGWARTS dikarenakan belatrix akan membahayakan nyawa anak perempuan satu satunya yaitu ginny dan bellatrix juga membunuh anak laki lakinya yaitu fred pada buku ke tujuh harry potter

Selasa, 30 November 2010

bellatrix lestrange


Bellatrix Lestrange adalah salah satu tokoh Fiksi dari buku karangan J.K. Rowling , Harry Potter. Diceritakan Bellatrix disebutkan pertama kali di penampilan pertamanya di Harry Potter and The Goblet of Fire ( Harry Potter dan Piala Api ) saat pembicaraan Kau Tahu Siapa dengan para pelahap mautnya. Bella saat itu menjadi tawanan dari Penjara bagi para penjahat sihir, Azkaban.

Bellatrix " Bella " Lestrange ( Terlahir Black ) pada Film Harry Potter diperankan oleh Aktris asal Inggris Helena Bonham-Carter.

Bella adalah putri sulung dari pasangan penyihir murni dari keluarga Black, Cygnus Black dan istrinya Druella Black ( Terlahir Rosier ). Bellatrix Lahir tahun 1951-an dan meninggal pada tahun 1998.

Setelah Molly Weasley ( Terlahir Prewett ), ibu dari Ronald Weasley, sahabat karibnya Harry Potter serta Hermione Granger dalam pertempuran kedua melawan Kau Tahu Siapa ( Lord Voldemort ) di Sekolah Sihir Hogwarts akibat putri bungsu Molly Weasley, Ginny Weasley yang ingin dibunuh dengan salah satu dari tiga Kutukan Tak Termaafkan ( Unforgivable Curses ) oleh Bellatrix Lestrange.

Kutukan Tak Termaafkan ada tiga macam, yaitu:

  1. Avada Kedavra
  2. Imperius
  3. Cruciatus

Bellatrix Lestrange terbunuh oleh Kutukan Molly Weasley dimana Harry Potter dan teman seangkatannya menyelesaikan pendidikannya pada tahun terakhir di Sekolah Sihir Hogwarts.

Bellatrix Lestrange merupakan istri dari Rodolphus Lestrange yang juga Pelahap Maut. Bellatrix juga memiliki saudara ipar dari suaminya bernama Rabastan Lestrange yang juga Pelahap Maut. Namun Rodolphus dan Bellatrix tidak memiliki keturunan. Bella juga melukai pasangan Auror Frank dan Alice Longbottom dengan kutukan Cruciatus, salah satu dari Kutukan Tak Termaafkan (Unforgivable Curses).

Frank dan Alice Longbottom merupakan orang tua dari Neville Longbottom , sahabat dekat Harry Potter selain Ronald Weasley dan Hermione Granger. Bella melukai Frank dan Alice Longbottom bersama dengan suaminya Rodolphus Lestrange , saudara iparnya Rabastan Lestrange dan Barty Crouch Jr sehingga akhirnya dipenjarakan di Penjara Azkaban pada Pertempuran Pertama Dunia Sihir.

Keluarga :

Bellatrix Lestrange juga mempunyai dua saudara perempuan , yaitu :

Andromeda Tonks ( Terlahir Black ) yang menikah dengan Ted Tonks, penyihir kelahiran Muggle {bukan penyihir} dan memberinya keponakan perempuan, Nymphadora Tonks dan dihapus dari keluarganya yaitu Keluarga Black oleh Walburga Black, bibinya.

Narcissa Malfoy ( Terlahir Black ) adik bungsunya yang menikah dengan salah satu pelahap maut juga penyihir berdarah murni, Lucius Malfoy dan memberinya keponakan laki-laki, Draco Malfoy.

Bellatrix Lestrange juga dikenal sebagai salah satu tokoh antagonis dalam serial fiksi Harry Potter. Ia adalah seorang Pelahap Maut yang menganggap dirinya pelahap maut yang setia karena bersedia masuk ke Penjara Azkaban daripada mengkhianati Kau Tahu Siapa.

Bellatrix adalah sepupu jauh dari Sirius Black yang merupakan anggota Keluarga Black, dimana Keluarga Black memiliki rumah di Jalan Grimmauld Place No. 12 yang diwarisi oleh Sirius Black, dan dijadikan sebagai markas dari Orde Phoenix. Serupa dengan Andromeda Tonks, adik sepupunya Sirius Black juga dihapus dari keluarga Black oleh ibunya sendiri, Walburga Black. Walburga Black adalah istri dari Orion Black dan ibu dari Regulus Black. ( Menurut gambaran silsilah Keluarga Black oleh pengarangnya J.K Rowling).

Bellatrix tewas karena kalah dalam pertempuran Hogwarts dan ia dikalahkan oleh Molly Weasley karena kesal atas semua perbuatan bellatrix yang telah melukai anaknya george, membunuh fred dan nyaris membahayakan ginny.

Fenrir Greyback


Fenrir Greyback adalah salah satu tokoh antagonis dalam serial fiksi Harry Potter. Diceritakan bahwa pada dasarnya ia adalah manusia serigala yang pernah menggigit Remus Lupin -- teman dari James Potter, ayah dari Harry Potter -- semasa kecilnya sehingga menyebabkan Remus berubah menjadi manusia serigala sampai saat ini. Hal itu dilakukan karena Fenrir mempunyai dendam dengan ayah Remus. Fenrir digambarkan sebagai makhluk yang selalu haus darah, terutama darah anak kecil. Pada serial Harry Potter and the Half-Blood Prince, Fenrir turut serta bersama Pelahap Maut yang lainnya dan juga bersama Draco Malfoy dan Severus Snape dalam usaha mereka untuk membunuh Albus Dumbledore atas perintah Lord Voldemort.

Di Harry Potter dan Relikui Kematian, Greyback berperan sebagai anggota Snatchers, dan bersama dengan Scabior, ia menemukan Harry, Ron, dan Hermione di kemah mereka saat ia menggunakan nama Voldemort setelah nama itu dibuat Tabu. Greyback, Scabior, dan para Snatcher dikalahkan oleh Bellatrix Lestrange setelah diskusi singkat tentang siapa yang harus diberi hadiah untuk penangkapan Harry Potter dan teman-temannya, dan hanya Greyback yang tetap sadarkan diri. Bellatrix berjanji padanya untuk membawa Hermione sebagai balasan jasanya, tetapi para tahanan berhasil kabur dari Malfoy Manor. Di pertarungan terakhir, Hermione melindungi Lavender Brown yang tidak sadarkan diri dari serangannya dan ia menjadi tidak sadarkan diri karena serangan bola kristal dari Professor Trelawney. Ia kembali bergabung dalam pertarungan pada saat-saat terakhir Pelahap Maut, saat Ron Weasley dan Neville Longbottom bersama-sama memingsankannya.

Senin, 29 November 2010

Horcrux


Horcrux adalah benda sihir fiksi dalam seri Harry Potter karya J. K. Rowling. Konsep Horcrux untuk pertama kalinya diungkapkan dalam seri keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran. Horcrux-horcrux tersebut telah ditampilkan di seri-seri sebelumnya walaupun tidak pernah diidentifikasikan sebagai horcrux. Rowling mempergunakan tokoh guru Ramuan Horace Slughorn untuk menjelaskan mengenai Horcrux ini. Horcrux adalah fokus utama dalam buku terakhir dari seri ini, Harry Potter dan Relikui Kematian.

Pengertian

Horcrux adalah "suatu wadah di mana seorang Penyihir Hitam menyembunyikan bagian dari jiwanya untuk tujuan mencapai keabadian".[1] Dengan sebagian jiwa yang disimpan, seorang penyihir memiliki hidup yang sangat panjang selama selama horcrux itu tetap utuh, biasanya disimpan di tempat yang aman. Jika tubuh si penyihir hancur, bagian dari jiwa itu tetap terpelihara di dalam horcrux tersebut.[2] Namun demikian, hancurnya tubuh si pembuat Horcrux akan menyebabkan penyihir itu dalam kondisi "setengah-hidup" karena mereka kehilangan bentuk jasmani.[3] Sihir hitam yang diperlukan untuk menciptakan sebuah horcrux dianggap sebagai sihir keji yang sangat tercela sehingga jarang sekali dipublikasikan, bahkan di buku-buku Ilmu Hitam.

Horcrux dapat dibuat dari benda biasa, termasuk organisme hidup. Kehancuran benda horcrux akan menghancurkan juga bagian jiwa yang disimpan di dalamnya, mengakhiri perlindungannya, dan mengembalikan si pembuat ke keadaan dapat mati, kecuali tentu saja, jika si pembuat memiliki horcrux lainnya. Penghancuran suatu benda horcrux memerlukan benda sihir yang kuat yang menyebabkan horcrux itu tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri, misalnya dengan mempergunakan bisa basilisk atau kutukan api. Jika seorang penyihir telah membuat lebih dari satu horcrux, ia akan tetap dalam keadaan tidak dapat mati hingga semua horcrux itu dihancurkan. Tanpa horcrux, si penyihir akan mati secara normal jika terluka.[4]

Lord Voldemort adalah satu-satunya penyihir yang secara eksplisit disebutkan telah membuat horcrux (walaupun ada juga penyihir yang telah membuatnya juga), dan merupakan satu-satunya penyihir yang diketahui pernah menciptakan lebih dari satu.[5]

Horcrux Voldemort

Pembuatan horcrux Voldemort adalah fokus utama dari alur terakhir seri Harry Potter.

Voldemort mempercayai bahwa tujuh adalah angka mistis yang sangat kuat sehingga ia dengan sengaja berencana membuat enam horcrux sementara bagian ketujuh dari jiwanya tetap ada di dalam tubuhnya.[HP6] Namun demikian, Voldemort secara tidak sengaja telah membagi jiwanya menjadi delapan bagian ketika ia gagal membunuh Harry. Kutukan Pembunuh yang gagal itu tidak saja menghancurkan tubuh Voldemort, tetapi juga merobek dan memasukkan bagian dari jiwanya ke dalam Harry. Voldemort yang tidak menyadari hal ini, membuat Nagini sebagai horcrux ketujuh dan terakhir.

Semua horcrux yang diciptakan secara sadar oleh Voldemort dibuat dengan menggunakan benda yang memiliki nilai yang penting atau cukup sentimental baginya.[HP6] Voldemort mempergunakan peninggalan-peninggalan dari keempat pendiri Hogwarts (kecuali peninggalan Godric Gryffindor), catatan harian masa kecilnya (yang berisikan bukti bahwa ia adalah keturunan dari Salazar Slytherin), cincin keluarga Peverell yang dimiliki oleh kakeknya, dan ular Nagini.

Dalam kesombongannya, Voldemort memberitahukan petunjuk tak kentara mengenai pembuatan horcrux-horcrux tersebut kepada para pengikutnya. Mengetahui mengenai horcrux ini, Regulus Black menduga dengan tepat bahwa liontin Salazar Slytherin adalah salah satu horcrux, dan mengorbankan dirinya untuk mengambilnya.[6]

Setiap horcrux dihancurkan oleh orang-orang yang berbeda, seperti dalam tabel berikut:

Horcrux Dibuat dengan kematian[6] Tempat disembunyikan Dihancurkan oleh Dihancurkan menggunakan Catatan
Catatan harian Tom Riddle Keluarga Riddle Dalam pemeliharaan Lucius Malfoy Harry Potter Taring Basilisk Lucius Malfoy memberikan catatan harian ini kepada Ginny Weasley tanpa menyadari bahwa benda ini adalah sebuah horcrux.
Cincin Marvolo Gaunt/Batu Kebangkitan Tom Riddle Senior Pondok Gaunt Albus Dumbledore Pedang Gryffindor Voldemort membuat horcrux ini tanpa menyadari bahwa benda tersebut adalah salah satu dari Relikui Kematian.
Liontin Salazar Slytherin Seorang gelandangan Muggle Gua pinggir laut Ron Weasley Pedang Gryffindor Dicuri dari Hepzibah Smith yang juga memiliki Piala Hufflepuff. Diambil dari gua pinggir laut pertama kalinya oleh Regulus Black dan Kreacher.
Piala Helga Hufflepuff Hepzibah Smith Bank Gringotts, dalam lemari besi Lestrange. Hermione Granger Taring Basilisk Dicuri dari Hepzibah Smith yang juga memiliki liontin Slytherin.
Mahkota Rowena Ravenclaw Seorang petani Albania Kamar Kebutuhan di Hogwarts Vincent Crabbe Mantera Fiendfyre Dicuri oleh putri tunggal Rowena Ravenclaw dan menyembunyikannya di Albani. Belakangan dipindahkan ke Kamar Kebutuhan oleh Voldemort. Hancur secara tidak sengaja.
Harry Potter Lily Potter Tidak ada Lord Voldemort Kutukan Pembunuh Ketika kutukan pembunuhnya berbalik, ada bagian dari jiwa Voldemort yang masuk ke kehidupan terdekat, Harry Potter. Meskipun ada spekulasi mengenai peranan Lily Potter dalam kejadian Harry menjadi horcrux ini, tapi tidak ada bukti bahwa kematian Lily ada hubungannya.
Nagini Bertha Jorkins Tidak ada Neville Longbottom Pedang Gryffindor Dumbledore mempercayai bahwa horcrux ini dibuat dengan kematian Frank Bryce, tapi J. K. Rowling menyatakan bahwa horcrux ini telah dibuat sebelumnya dengan kematian Bertha Jorkins.

Buku harian Tom Riddle

Cincin Marvolo Gaunt

Liontin Salazar Slytherin

Piala Helga Hufflepuff

Mahkota Rowena Ravenclaw

Harry Potter

Nagini

Nagini merupakan ular peliharaan Lord Vodemort. Kemunculan Nagini pertama kali disebutkan dalam buku keempat, Harry Potter dan Piala Api, pada awal cerita. Ular itu mengadu pada majikannya bahwa ada seorang Muggle tua yang sedang menguping percakapan Voldemort dan Peter Pettigrew dekat pintu.

Dalam buku kelima, Voldemort merasuki Nagini dan menggunakannya untuk memeriksa keadaan di Departemen Misteri. Tidak dijelaskan bagaimana caranya Voldemort merasuki ularnya, dan bagaimana juga caranya mengirim ular itu ke Kementerian Sihir. Saat sedang memata-matai Departemen Misteri, Arthur Weasley memergoki ular itu saat dia mendapat giliran jaga. Nagini menyerang Arthur dan menyebabkannya terluka cukup parah sehingga harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit St. Mungo. Kejadian ini diketahui oleh Harry Potter ketika dia mendapat penglihatan ke dalam pikiran Voldemort.

Dalam buku ketujuh, Nagini memakai tubuh Bathilda Bagshot yang sudah mati. Remus Lupin sudah berkata sebelumnya bahwa ada jenis sihir hitam yang belum diketahui oleh Harry Potter dan kawan-kawan, dan Hermione berpendapat bahwa ular yang "meminjam" tubuh manusia yang sudah mati adalah salah satu jenis sihir yang dimaksud. Dengan menyamar sebagai Bathilda, Nagini berhasil memikat Harry dan Hermione dan menahan Harry sebelum Voldemort datang. Bathilda tidak berbicara di hadapan Hermione karena sudah jelas akan ketahuan kalau dia menggunakan bahasa Parseltongue.

Di akhir buku ketujuh, Neville memenggal kepala Nagini dengan menggunakan pedang Gryffindorr.

Remus Lupin


Remus Lupin
Guru Hogwarts, Manusia Serigala
Jenis kelamin Laki-laki
Warna rambut Coklat (beruban secara prematur)
Keturunan Darah-campuran/Manusia serigala
Aliansi Orde Phoenix
Diperankan oleh David Thewlis (dewasa)
James Utechin (remaja)
Pemunculan pertama Harry Potter dan Tawanan Azkaban

Remus John Lupin (lahir 10 Maret 1959), nama panggilannya Moony, adalah karakter fiksi dari seri Harry Potter karangan J.K. Rowling. Dia tampil pertama kali dalam Harry Potter and the Prisoner of Azkaban sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Di film karakter ini diperankan oleh David Thewlis.

Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Lupin adalah penyihir yang jauh lebih hebat daripada yang diperlihatkannya. Di jilid ketiga, ia membuat api di tangannya yang kosong, ini menunjukkan kemampuannya menciptakan sihir tanpa tongkat. Di jilid kelima, dia adalah satu-satunya petarung, selain Dumbledore, yang tidak terluka, terbunuh, maupun pingsan dalam pertempuran di Departemen Misteri.


Biografi

Lupin digigit oleh manusia serigala jahat, Fenrir Greyback, ketika masih kecil dan untuk seterusnya menjadi manusia serigala. Orangtuanya mencoba segala cara untuk mencari obatnya. Ketika keluarganya mengira bahwa ia tidak dapat masuk sekolah, Dumbledore yang sudah menjabat Kepala Sekolah Hogwarts kala itu memberinya ijin untuk masuk Hogwarts. Sebuah rumah dibangun di Hogsmeade dengan sebuah jalan masuk rahasia di bawah Dedalu Perkasa. Lupin diselundupkan ke dalam rumah ini untuk bertransformasi setiap bulan, untuk menjamin keselamatan dirinya dan orang lain. Transformasi dari manusia menjadi manusia serigala amatlah menyakitkan, dan ketika terisolasi dari manusia, atau ketika ditemani dengan hewan lain, manusia serigala akan menyakiti dirinya sendiri dengan gigi dan cakarnya disebabkan oleh rasa frustasinya karena tidak bisa menyerang makhluk lain. Penduduk desa mengira jeritan Lupin adalah suara hantu. Oleh sebab itu gubuk tersebut diberi nama "Shrieking Shack" (gubuk menjerit) dan dikenal sebagai tempat paling berhantu di Inggris. Meskipun tempat ini sama sekali tidak berhantu, Dumbledore menyebarkan rumor ini supaya penduduk desa tidak menyelidiki tempat ini.

Lupin berusaha menyembunyikan keadaan dirinya, tapi kawan-kawan terdekatnya, (James Potter, Sirius Black, dan Peter Pettigrew) mengetahui rahasia ini di tahun kedua mereka. Di kelas lima mereka mempelajari bagaimana menjadi Animagus untuk menemani Lupin selama masa transformasi. Manusia serigala hanya berbahaya terhadap manusia. Dia diberi nama panggilan "Moony" oleh kawan-kawannya karena kondisi dirinya yang bertransformasi setiap bulan purnama. Di kelas enam, Sirius membuat lelucon (yang berbahaya) terhadap Snape (Sirius, James, dan Peter membencinya, sementara Lupin tidak punya alasan untuk membencinya sampai di buku ke-6). Sirius memberitahu pada Snape kemana Lupin pergi setiap bulan, tahu bahwa Snape akan terbunuh bila ia mendekati Lupin ketika ia bertransformasi. Snape, yang berharap mereka akan memperoleh kesulitan, mengikuti petunjuk Sirius. James menghentikan Snape di tengah jalan untuk menyelamatkan dirinya, tapi Snape telah melihat Lupin bertransformasi, dan berjanji pada Dumbledore untuk merahasiakannya. Snape tidak pernah memaafkan Sirius (juga James dan Lupin) untuk lelucon itu dan yakin bahwa motif James menyelamatkannya adalah untuk kepentingan pribadinya, yaitu supaya tidak dikeluarkan dari Hogwarts. Dan meskipun Lupin tidak mengetahui sedikitpun tentang lelucon ini, Snape tetap membenci dan menyalahkan dirinya juga.

Lupin adalah seorang Prefek, biarpun ia kesulitan mendisiplinkan teman-temannya. Dalam sebuah wawancara, Rowling menghubungkan hal ini dengan keingingan Lupin untuk disukai, "karena ia telah begitu sering tidak disukai". Kesalahan utama Lupin adalah dia senang disukai. Sirius mengatakan bahwa Lupin adalah "anak baik" di Orde Phoenix, dan Rowling mengatakan bahwa dia adalah orang yang "dewasa". Sirius mengatakan bahwa Lupin tidak pernah andil dalam kenakalan mereka (terutama pada Snape), tapi Lupin menyesali dirinya karena tidak pernah menyuruh James dan Sirius untuk berhenti. Lupin juga salah satu pembuat Peta Perampok, yang akhirnya jatuh ke tangan Harry. Lupin adalah salah satu anggota awal Orde Phoenix.

Rowling pernah mengatakan bahwa Lupin adalah jenis guru yang ia inginkan. Baik hati dan mampu menampilkan yang terbaik dari setiap orang (misalnya meningkatkan kepercayaan diri Neville dengan cara mengajarinya untuk menghadapi boggart). Fakta bahwa dirinya adalah manusia serigala dan membutuhkan ramuan untuk mencegahnya menyakiti orang lain selama hidupnya membuat Lupin adalah simbol dari konsekuensi kecurigaan dan pengucilan, dan juga reaksi negatif masyarakat terhadap penyakit dan kecacatan.

Peran Lupin di Prisoner of Azkaban

Professor Lupin pertama kali muncul dalam Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dimana ia mengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di Sekolah Sihir Hogwarts. Dengan ramuan Wolfsbane yang disediakan secara rutin oleh Snape ketika ia berada di Hogwarts, mampu membuat Lupin tetap memiliki pikiran manusianya selama transformasi. Lupin mengajari Harry Mantra Patronus, satu-satunya cara untuk mempertahankan diri dari serangan dementor. Murid-murid, kecuali anak-anak Slytherin, sangat menyukai cara mengajarnya. Dia dianggap guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam terbaik menurut Harry dan kawan-kawannya, meskipun bila dilihat dari pesaingnya sesama guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam hal ini wajar sekali. Quirrell adalah pengikut Voldermort, Lockhart adalah penipu, Mad-Eye Moody, ternyata adalah Barty Crouch Jr., abdi setia Voldermort, Dolores Umbridge adalah kaki tangan kementerian, dan Snape adalah guru yang paling mengintimidasi di Hogwarts. Di akhir tahun ajaran, secara ‘tidak sengaja’ Snape mengatakan bahwa dia adalah manusia serigala. Hal ini yang menyebabkan Lupin mengundurkan diri sebagai guru, karena dia tidak ingin Dumbledore mendapat kesulitan dari para orang tua yang tidak ingin anak-anak mereka diajar oleh manusia serigala.Dan sekaligus membuat Harry tambah membenci Snape.

Peran Lupin di Order of the Phoenix dan Half-Blood Prince

Lupin kembali muncul sebagai anggota Orde Phoenix di Harry Potter and the Order of the Phoenix dan Harry Potter and the Half-Blood Prince, tapi perannya lebih kecil daripada di Prisoner of Azkaban.

Di Prisoner of Azkaban, ia digambarkan memiliki rambut coklat muda yang mulai berwarna kelabu. Di Order of the Phoenix, ia berwajah pucat dengan garis-garis yang seharusnya belum muncul. Pakaiannya kumal dan bertambal-tambal. Sangat sedikit di dunia sihir yang mau mempekerjakan manusia serigala dan nyaris semua mencurigainya. Dengan tambahan adanya undang-undang baru anti-manusia serigala dari Kementerian Sihir, menemukan pekerjaan adalah hal yang nyaris mustahil dan ilegal. Dengan ramuan Wolfsbane yang disediakan secara rutin oleh Snape ketika ia berada di Hogwarts, mampu membuat Lupin tetap memiliki pikiran manusia-nya selama transformasi.

Di awal buku kelima, Lupin adalah anggota Orde yang ikut menjemput Harry dari kediaman Keluarga Dursley. Disebutkan bahwa Lupin tinggal di Grimmauld Place, markas besar Orde Phoenix dengan Sirius Black, tapi tidak tinggal terus di sana, karena sering pergi untuk tugas Orde. Di bagian akhir, dia turut andil dalam pertempuran di Departemen Misteri.

Di Half-Blood Prince, Lupin menjadi mata-mata dalam kumpulan manusia serigala yang dipinpin oleh manusia serigala yang dulu menggigitnya, Greyback. Greyback adalah pengikut Voldermort. Lupin mengakui pada Harry bahwa motif manusia serigala bergabung dengan Voldermort karena mereka ditawari kebebasan. Sesuatu yang tidak mungkin mereka dapatkan saat ini. Di akhir buku terungkap bahwa Tonks mencintai Lupin. Dia menolaknya karena resikonya sebagai manusia serigala, dan mengatkan bahwa ia terlalu tua, terlalu miskin, dan terlalu berbahaya bagi Tonks. Meski demikian, mereka berdua terlihat bergandengan tangan di pemakaman Dumbledore.

Dalam seri terakhir buku Harry Potter yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows ( Harry Potter dan Relikui Kematian ), dirinya kemudian menikah dengan puteri tunggal Ted Tonks dan Andromeda Tonks ( Terlahir Black ), yakni Auror Nymphadora Tonks. Remus Lupin dan Nymphadora Tonks memiliki putera bernama Teddy Lupin .

Namun, ia dan isterinya tewas pada Pertempuran di Hogwarts melawan Pelahap Maut dan keduanya juga memilih Harry Potter sebagai ayah baptis puteranya. Teddy Lupin, yang kemudian diasuh oleh neneknya Andromeda Tonks setelah orangtuanya tewas.

Perbedaan Buku dan Film

  • Dalam film adaptasi Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Lupin dalam bentuk manusia serigalanya digambarkan lebih menyerupai manusia, meskipun di buku menyebutkan bahwa manusia serigala sangat mirip dengan serigala asli.
  • Dalam film, Lupin memiliki sedikit kumis dan bekas luka, biarpun hal ini tidak disebutkan dalam buku. Dia tampak lebih ceria dibanding di buku. Dan bajunya juga tidak kumal dan bertambal, tetapi hanya tampak biasa dan sederhana.
  • Dalam film tampak jelas sejak awal bahwa boggart Lupin berbentuk bulan purnama, sementara di buku hal ini baru diketahui di bagian akhir. Awalnya murid-murid mengira Lupin takut pada bola kristal, karena boggartnya berbentuk bola putih keperakan.

Etimologi Nama

Nama karakter adalah contoh jelas bagaimana Rowling menggunakan nama yang deskriptif untuk karakter ciptaannya. Nama depannya, "Remus", adalah nama dari salah satu orang kembar pendiri Roma, Romulus dan Remus, yang ketika bayi diasuh oleh serigala betina (bernama Lupa). Nama belakangnya, "Lupin", mengacu pada kata dalam bahasa Inggris "lupine" (artinya memiliki karakteristik atau berhubungan dengan serigala"), yang sebenarnya adalah turunan dari kata dalam bahasa Latin, "lupus" (serigala).

Relikui Kematian



Relikui Kematian atau the Deathly Hallows adalah tiga benda pusaka sihir fiksi yang diceritakan dalam buku Harry Potter dan Relikui Kematian karya J. K. Rowling dan menjadi judul dari novel tersebut. Ketiga benda tersebut adalah Tongkat sihir Elder (Elder Wand), Batu Kebangkitan (Resurrection Stone), dan Jubah Gaib (Cloak of Invisibility). Diceritakan dalam novel tersebut, terdapat legenda di dunia sihir bahwa orang yang berhasil menggabungkan ketiga benda tersebut akan mendapatkan kemampuan untuk mengalahkan kematian.

Menurut penulis J. K. Rowling, sumber ide mengenai ketiga benda ini "mungkin" adalah kisah The Pardoner's Tale bagian dari The Canterbury Tales karya Geoffrey Chaucer.


Legenda Relikui Kematian

Kisah Tiga Saudara (The Tale of the Three Brothers)

Dalam novel ini, Albus Dumbledore mewariskan Hermione Granger sebuah buku kuno berjudul The Tales of Beedle the Bard dalam wasiatnya. Ketika Hermione membaca buku tersebut, ia menemukan sebuah simbol aneh yang digoreskan dalam salah satu halaman. Harry, Ron, dan Hermione pernah melihat simbol yang sama itu digunakan oleh Xenophilius Lovegood, ayah dari kawan mereka, Luna Lovegood. Xenophilius memberi tahu mereka bahwa simbol itu adalah simbol dari Relikui Kematian. Ia bertanya apakah mereka mengetahui Kisah Tiga Saudara (The Tale of the Three Brothers). Hermione menanggapi bahwa kisah itu terdapat dalam The Tales of Beedle the Bard dan membukakan halaman di mana simbol tersebut digoreskan.[HP7]

Kisah yang ditemukan dalam buku kuno itu menceritakan tentang tiga laki-laki kakak beradik yang hendak menyeberangi sebuah sungai yang terlalu dalam dan terlalu berbahaya untuk direnangi. Tetapi karena mereka adalah para penyihir yang hebat, mereka menyihir sebuah jembatan yang menyeberangi sungai itu. Di tengah-tengah jembatan, mereka menemukan sebuah seseorang berkerudung, yakni Sang Maut itu sendiri. Sang Maut menjadi murka karena ketiga bersaudara yang pandai itu melewati sungai itu tanpa terluka sementara orang-orang sebelumnya yang berusaha melalui sungai itu semuanya tenggelam. Sang Maut berpura-pura mengucapkan selamat kepada para penyihir itu dan memberi tahu bahwa setiap dari mereka layak mendapatkan hadiah atas sihir mereka yang mengagumkan.[HP7]

Saudara yang tertua, yang suka bertempur, meminta tongkat sihir tak terkalahkan yang layak untuk seorang penyihir yang telah mengalahkan Sang Maut. Untuk memenuhinya, Sang Maut mengambil ranting pohon Elder dan menciptakan sebuah tongkat sihir yang diberikannya kepada saudara tertua. Saudara yang kedua, yang angkuh, bermaksud mempermalukan Sang Maut lagi dan meminta kekuatan untuk memanggil yang telah mati. Sang Maut mengambil sebuah batu dari tepi sungai dan memberi tahu bahwa batu itu memiliki kekuatan kebangkitan. Saudara yang ketiga adalah yang paling rendah hati, paling bijaksana, dan tidak mempercayai Sang maut. Ia meminta sesuatu yang dapat membuatnya bepergian tanpa bisa diikuti Sang Maut. Jadi Sang Maut dengan sangat segan memberikan Jubah Gaib kepada saudara yang ketiga.

Setelah beberapa waktu, ketiganya berpisah dan pergi dalam pertualangan mereka masing-masing. Saudara yang tertua bertempur dalam duel yang selalu dimenangkan, membanggakan tongkat sihir yang didapatkannya dari Sang maut. Suatu malam, ketika ia sedang tidur, seorang penyihir yang iri hati mengendap-endap dan menggorok lehernya, lalu mengambil tongkat sihir itu untuk dirinya sendiri. Saudara yang pertama pun jatuh ke tangan Sang Maut. Saudara yang kedua memiliki sebuah rumah dan tinggal di sana sendirian. Ia mengambil batu itu suatu hari dan memutarkannya tiga kali di tangannya. Seorang wanita yang dicintainya, tapi telah meninggal dunia, muncul di sisinya. Wanita itu terpisahkan dari dunia kematian, sedih dan dingin. Saudara yang kedua menjadi gila dan membunuh dirinya sendiri untuk menyusul wanita yang dicintainya. Saudara yang kedua pun jatuh ke tangan Sang Maut. Namun demikian, Sang Maut tidak pernah menemukan saudara yang ketiga sampai ia melepaskan Jubahnya dan memberikannya pada putranya. Sang Maut pun muncul di sisi saudara yang ketiga yang menyambutnya sebagai kawan lama dan mereka pun meninggalkan dunia dengan sederajat.[HP7]

Identitas Ketiga Saudara

Setelah Hermione melihat simbol Relikui Kematian di makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow dan Harry teringat akan Cincin Marvolo Gaunt yang memiliki lambang Peverell, mereka menyadari bahwa ketiga bersaudara tersebut adalah keluarga Peverell: Antioch (yang tertua), Cadmus (yang kedua), dan Ignotus (yang bungsu). Harry percaya bahwa ia adalah keturunan dari Ignotus sendiri karena Jubah itu diwariskan di dalam keluarganya. Belakangan, hal ini dibenarkan oleh roh Albus Dumbledore yang muncul kepada Harry pada akhir novel ini. Alasan yang sama menyimpulkan bahwa Voldemort, dari Keluarga Gaunt, adalah keturunan dari Cadmus. Rowling telah membenarkan bahwa Harry dan Voldemort memang berhubungan dengan keluarga Peverell dalam sebuah wawancara, sebagaimana umumnya banyak keluarga-keluarga penyihir memiliki leluhur yang sama.

Penanya: Setelah membaca mengenai pemilik asli Relikui Kematian, Peverell bersaudara, saya ingin tahu apakah Harry dan Voldemort bersaudara jauh: karena kakek Voldemort mewarisi cincin bertakhtakan Batu Kebangkitan?
J.K. Rowling: Ya, Harry dan Voldemort memiliki sedikit pertalian saudara melalui keluarga Peverell. Tentu, hampir semua keluarga penyihir memiliki pertalian jika kita menelusuri mereka selama berabad-abad. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Relikui Kematian, Peverell bersaudara menurunkan banyak keluarga penyihir.

Pertualangan mencari Relikui Kematian

J.K. Rowling mengungkapkan dalam sebuah wawancara bahwa judul novelnya sebelum dinamai Relikui Kematian direncanakan Harry Potter and the Peverell Quest. Di sepanjang novel, banyak penyihir berusaha menemukan ketiga benda sihir Relikui Kematian, seperti diceritakan oleh Xenophilius. Tapi rupanya tidak banyak yang sukses menemukannya. Lagi pula, mereka tidak memiliki bukti di mana letaknya benda-benda tersebut dan sama sekali tidak memiliki bukti bahwa legenda ini memang benar-benar ada.

Relikui Kematian

Tongkat Elder

Tongkat sihir milik Albus Dumbledore dalam film-film Harry Potter. Jika versi film sesuai dengan bukunya, maka tongkat inilah Tongkat Elder

Tongkat Elder, yang melegenda sepanjang sejarah sebagai "Tongkat Kematian" atau "Tongkat Takdir", adalah tongkat sihir yang sangat kuat yang dibuat dari kayu pohon elder. Kemungkinan, tongkat ini adalah tongkat yang paling kuat yang pernah ada, dan bila digunakan oleh pemiliknya yang sah, ia kemungkinan tidak dapat dikalahkan dalam duel. Sebagaimana biasanya tongkat-tongkat sihir lainnya, Tongkat ini pun tidak akan mengizinkan dirinya digunakan untuk mencelakai pemiliknya yang sah. Kepemilikan tongkat sihir pun merupakan hal yang rumit. Sebagaimana dinyatakan oleh pembuat tongkat sihir Ollivander, kepemilikan suatu tongkat sihir hanya dapat dipindahkan secara tepat. Tongkat ini akan menundukkan diri kepada seorang pemilik yang baru, jika pemilik lamanya dikalahkan, dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. Hal ini dapat terjadi baik melalui duel sihir maupun melalui jalan non-sihir (membunuh seperti Muggle, misalnya). Jika pemilik tongkat meninggal tanpa dikalahkan, maka kekuatan tongkat sihir akan padam juga karena kekuatan itu tidak pernah dimenangkan dari pemiliknya.

Setelah menyombongkan tongkat sihirnya yang tak terkalahkan, Antioch Peverell tewas terbunuh ketika tidur oleh seorang musuh yang menginginkan tongkat itu. Sejak itu, tongkat sihir ini berpindah-pindah tangan di antara para penyihir yang haus kekuasaan. Setelah melalui beberapa masa, tongkat itu jatuh ke tangan Gregorovitch, seorang pembuat tongkat sihir Bulgaria. Gregorovitch berkoar mengenai Tongkat Elder yang dimilikinya untuk menaikkan popularitasnya ketika ia menghadapi persaingan dengan Ollivander. Ia berusaha mengungkapkan rahasia kedigdayaan Tongkat itu. Tongkat Elder kemudian jatuh ke tangan Gellert Grindelwald, yang mencurinya dari pembuat tongkat sihir yang terkenal itu. Tidak diketahui apakah Gregorovitch berhasil mengungkapkan rahasia Tongkat itu tapi ia mendapatkan reputasi terkenal di Eropa. Grindelwald kemungkinan memingsankan Gregorovitch ketika ia mencuri tongkat itu, karena Grindelwald mendapatkan kesetiaan tongkat itu. Kepemilikan Tongkat Elder kemudian berpindah ke Albus Dumbledore ketika ia mengalahkan Grindelwald. Dalam novel, Rowling tidak pernah secara eksplisit menuliskan bagaimana Grindelwald menjadi pemilik yang sah atas Tongkat Elder.

Ketika Dumbledore merencanakan kematiannya dengan Severus Snape, ia memaksudkan agar Snapelah yang mendapatkan Tongkat Elder tersebut. Dalam skenario ini, karena kematiannya bukan hasil dikalahkan, Dumbledore berharap agar dengan demikian kekuatan tongkat itu pun akan turut padam mengikuti kematiannya. Namun demikian, karena Draco Malfoy melucuti Dumbledore, maka rencana ini gagal dan Draco menjadi pemilik baru dari tongkat itu tanpa menyadarinya. Setelah kematian Dumbledore, tongkat ini diletakkan di dalam makam putihnya. Voldemort kemudian membuka makam tersebut dan mencuri tongkat itu menjadi miliknya. Belakangan ia menyadari bahwa ia tidak menjadi pemilik sesungguhnya dari tongkat itu karena ia tidak mengalahkan pemilik sebelumnya. Ia salah mengira bahwa tongkat itu telah menjadi milik Snape, karena Snapelah yang membunuh Dumbledore. Hak atas tongkat itu kemudian berpindah kepada Harry setelah ia melucuti Draco, walaupun Draco belum pernah sekalipun memegang Tongkat Elder itu.

Voldemort meluncurkan empat kali Kutukan Pembunuh kepada Harry, tetapi setiap kali selalu mengalami kegagalan. Kutukan Pembunuh yang pertama gagal, menurut Dumbledore, dikarenakan pengorbanan diri Lily Potter untuk melindungi Harry, dan setelahnya Harry menjadi Horcrux secara tidak sengaja. Kutukan yang kedua terjadi dalam buku keempat, ketika kedua inti tongkat melindungi Harry dan memberikan waktu kepada Harry untuk melarikan diri. Dalam kutukan pembunuh yang ketiga, Tongkat Elder menghancurkan bagian jiwa Voldemort yang berada dalam Harry (Voldemort tidak dapat membunuh Harry, tapi ia dapat menghancurkan bagian dari dirinya sendiri). Kutukan Pembunuh yang ketiga ini merobohkan Harry hingga ia masuk ke kondisi seperti-mati untuk beberapa saat, di mana ia mendapatkan pilihan untuk "terus melanjutkan" ke kehidupan setelah kematian, atau kembali ke dunia, dan ia memilih kembali. Kutukan Cruciatus Voldemort, yang digunakan terhadap Harry ketika Voldemort mengira bahwa ia telah tewas, tidak menyebabkan kesakitan atas Harry. Dalam pertempuran terakhir, Tongkat Elder mengenali tuannya yang sesungguhnya dan ketika menghadapi mantera Expelliarmus dari Harry, tongkat itu menyebabkan kutukan pembunuh terakhir Voldemort berbalik dan membunuh dirinya sendiri. Harry adalah pemilik yang sejati dari tongkat itu dan tongkat itu tidak dapat menyakitinya.

Harry belakangan mempergunakan Tongkat Elder untuk memperbaiki tongkatnya sendiri yang telah patah. Tindakan ini sebetulnya dianggap mustahil menurut Ollivander.

Rowling mengungkapkan dalam salah satu wawancaranya bahwa salah satu judul yang dipertimbangkan sebelum Harry Potter dan Relikui Kematian adalah Harry Potter and the Elder Wand[2]

Harry bermaksud mengembalikan tongkat itu ke makam Dumbledore dan bermaksud agar jika ia meninggal secara alami, maka kekuatan tongkat itu akan turut padam.

Batu Kebangkitan

Batu Kebangkitan memiliki kekuatan bagi pemiliknya untuk melihat dan berkomunikasi dengan mereka yang sudah meninggal. Menurut dongeng mengenai asal usul Relikui Kematian, setelah mempergunakan Batu Kebangkitan, pemilik aslinya, Cadmus Peverell, membunuh dirinya sendiri setelah melihat tunangannya yang telah meninggal tapi tidak sungguh-sungguh bersama-sama dengannya. Setelah beberapa waktu, batu itu menjadi milik Marvolo Gaunt dalam bentuk cincin. Baik Albus Dumbledore dan Gellert Grindelwald menginginkan batu tersebut, tapi untuk alasan yang berbeda. Sementara Dumbledore menginginkannya untuk berkomunikasi dengan keluarganya yang telah meninggal, Grindelwald bermaksud menggunakannya untuk membuat tentara Inferi. Voldemort mengubah cincin itu menjadi sebuah Horcrux, tanpa menyadari kemampuan sihir dari batu yang bertahta pada cincin tersebut. Batu ini kemudian digunakan terakhir oleh Harry Potter sebelum ia menghadapi Lord Voldemort.[HP7]

Dumbledore menemukan cincin tersebut di antara reruntuhan rumah keluarga Gaunt, dan dengan segera menyadari bahwa benda itu adalah horcrux sekaligus salah satu dari ketiga Relikui Kematian. Karena kegairahannya akan penemuan Batu Kebangkitan itu, Dumbledore melupakan bahwa Horcrux itu kemungkinan besar telah dikutuk. Dimotivasi oleh hasrat terdalamnya, ia segera mencoba mempergunakan Batu itu untuk berbicara dengan keluarganya yang telah meninggal. Namun demikian, kutukan yang terdapat pada horcrux itu merusakkan lengannya dan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Walaupun penyebaran itu berhasil dilokalisasi oleh Severus Snape di sebatas lengannya yang rusak dan menghitam saja, Dumbledore sama saja telah dihukum mati, hanya memiliki kemungkinan satu tahun untuk hidup. Sebelum meminta pertolongan Snape, Dumbledore telah menghancurkan terlebih dahulu Horcrux tersebut, dengan menggunakan pedang Godric Gryffindor. Batu itu kemudian diwariskan kepada Harry dalam wasiat Dumbledore, tersembunyi dalam Golden Snitch, yang ditangkap Harry dalam pertandingan Quidditch pertamanya. Snitch ini menampakkan sebuah pesan "Aku membuka pada akhirnya" ketika bersentuhan dengan bibir Harry. Harry tidak dapat membuka Snitch hingga akhirnya ketika ia hendak mengorbankan dirinya untuk dibunuh oleh Voldemort, ia menyadari bahwa "akhirnya" berarti kematian. Ketika ia membisikkan, "Aku sedang menuju kematian", Snitch itu membuka dan memperlihatkan Batu Kebangkitan di dalamnya. Harry menggunakan batu itu untuk memanggil orang tuanya, Sirius Black, dan Remus Lupin yang menenangkan dirinya sebelum ia menemui Voldemort.

Batu tersebut tergelincir dari jari-jari Harry yang kebas di Hutan Terlarang. Ia dan lukisan Dumbledore belakangan setuju bahwa Harry tidak akan mencari kembali batu itu ataupun memberi tahu orang lain di mana batu itu berada, guna mencegah ketiga Relikui Kematian disatukan kembali oleh seorang penyihir. Dalam sebuah wawancara, Rowling mengatakan bahwa ia lebih suka mempercayai bahwa salah satu centaurus menginjak batu itu dan menyebabkannya terkubur untuk selamanya. Dengan demikian, batu itu kemungkinan tidak akan pernah ditemukan lagi di Hutan Terlarang.

Jubah Gaib

Dalam legenda sihir, Jubah Gaib memiliki kekuatan untuk menutupi penggunanya dari penglihatan Sang Maut. Jubah Gaib ini adalah jubah gaib yang sejati yang tidak dapat lekang oleh waktu maupun mantera, seperti jubah gaib biasa lainnya yang digambarkan dalam dunia Harry Potter yang ditenun dari rambut makhluk gaib yang dikenal seperti Demiguise, yang dapat menjadi buram seiring waktu dan mudah dirusak oleh beragam mantera.[HP7] Jubah ini pada mulanya dimiliki oleh Ignotus Peverell yang dimakamkan di Godric's Hollow, dan diwariskan turun-temurun hingga kepada James Potter dan, akhirnya kepada Harry Potter, yang akhirnya menemukan bahwa dirinya adalah keturunan Ignotus. Jubah ini tidak sedang dipegang oleh James Potter ketika ia terbunuh; karena sebelumnya telah dipinjamkannya kepada Dumbledore yang memiliki ketertarikan besar akan Relikui Kematian. Ketika ia menyadari bahwa James Potter kemungkinan memiliki Jubah Gaib legendaris itu, ia meminjamnya untuk "mempelajarinya". Pada akhir Buku ke-7, Dumbledore menjelaskan kepada Harry bahwa sihir sejati Jubah itu dapat melindungi baik pemilik maupun orang lainnya, sebagaimana yang dialami Harry dan kawan-kawannya sepanjang seri ini.

Ular tidak dapat melihat mereka yang ada dibalik Jubah Gaib, tapi mereka dapat merasakan pergerakan dan panas tubuh, sehingga dapat mendeteksi orang yang bersembunyi. Pengguna Jubah Gaib juga dapat dideteksi menggunakan mantera "Homenum Revelio".[1] Dalam Harry Potter dan Piala Api, "Mad-Eye Moody" palsu juga dapat melihat Harry ketika ia mempergunakan Jubah Gaib, dengan menggunakan mata ajaib Moody yang asli.

Harry memutuskan Jubah Gaib sebagai satu-satunya Relik yang akan disimpannya, dan bermaksud untuk mewariskannya kepada keturunannya.

Relikui Kematian dan Horcrux

Pada mulanya, dipercayai bahwa ketiga Relikui Kematian dan Horcrux adalah benda-benda sihir yang dapat memperdayakan kematian. Namun demikian, Dumbledore memberi tahu Harry pada akhir novel ini, Harry Potter dan Relikui Kematian, bahwa meskipun Relikui Kematian menjadikan pemiliknya "menguasai kematian", ketiga benda itu tidaklah menjadikan pemiliknya hidup abadi. Justru, mereka yang "menguasai kematian" di sini sebetulnya adalah mereka yang tidak takut menghadapi kematian dan mereka adalah orang-orang yang sadar sepenuhnya bahwa setiap orang pada akhirnya harus mati.